“Kenapa hasil disolusi tablet hari ini malah ‘ngegas’ di menit ke-15 padahal kemarin adem ayem?”—pertanyaan seperti itu sering mampir ke meja saya. Sebagai orang lab di PT Sinergi Pro Inovasi, saya tahu kamu bukan sekadar butuh definisi alat disolusi. Kamu butuh pegangan praktis yang bisa langsung dipakai di ruang QC—tanpa drama, tanpa trial-and-error yang makan sampel.
Alat disolusi adalah jantungnya uji pelepasan obat padat. Sekali detak ritmenya kacau—RPM meleset, suhu tak stabil, atau centering melenceng—hasilmu juga ikut goyang. Saya pernah menangani lini produksi yang “galau” karena RSD naik setiap pengulangan. Ternyata sederhana: medium kurang degassing dan spindle agak “wobble”. Setelah kita rapikan set-up alat uji disolusi—boom, datanya kembali manis. Bayangkan kamu bisa membaca data disolusi seperti barista membaca grind size kopi: pas, konsisten, dan bikin semua orang mengangguk. Dengan pemahaman yang tepat, alat disolusi bukan lagi “kotak misteri”, tapi mitra andalan kualitas. Di tulisan ini, saya ajak kamu menelusuri cara kerja, kalibrasi, validasi, dan tips anti-gagal yang saya pakai sehari-hari. Pegang secangkir kopi (opsional), mari mulai.
Memahami Alat Disolusi: Dari Prinsip ke Praktik Lapangan
Sebelum bicara angka dan acceptance criteria, penting untuk memahami anatomi serta perilaku alat uji disolusi. Di sinilah banyak “kecelakaan kecil” terjadi: suhu 37 ± 0,5 °C tak konsisten, posisi spindle tidak center, atau volume media yang kurang tepat. Bagian ini mengantar kamu ke detail teknis H3 di bawah—yang bisa langsung kamu cek di alatmu.
Prinsip Kerja Alat Disolusi
Alat disolusi (sering disebut juga alat uji disolusi) mensimulasikan pelepasan zat aktif dari sediaan padat ke dalam media cair pada kondisi terkontrol—jenis bejana, suhu, kecepatan agitasi, dan waktu sampling. Umbrella terms-nya: USP Apparatus 1 (basket) dan 2 (paddle) paling umum, dengan kecepatan khas 50–100 rpm dan suhu 37 °C. Kuncinya konsistensi: kalau variabel proses stabil, data ikut stabil.
Komponen Kritis Alat Uji Disolusi
Bejana (vessel), penyangga (shaft), keranjang/pedal (basket/paddle), water bath/heater, sistem sirkulasi, dan autosampler. Hal kecil seperti wobble di shaft, decenter pada vessel, atau gelembung pada media sering jadi biang kerok. Ingat tiga “S”: Suhu, Stirring, Sampling—ketiganya harus rapi.
Kalibrasi, Kualifikasi, & PVT: Bukan Formalitas, tapi Penyelamat Data
Kalibrasi dan kualifikasi bukan sekadar checklist audit. Buat saya, ini “asuransi” mutu. Saat alat uji disolusi kamu terkualifikasi dan dikalibrasi, kamu membeli ketenangan pikiran bahwa data hari ini kompatibel dengan data kemarin—dan valid di mata regulator.
Checklist Kalibrasi & PVT yang Realistis
- Temperatur: 37 ± 0,5 °C di setiap vessel—uji stabilitas dan uniformity.
- RPM: verifikasi kecepatan nominal vs aktual.
- Centering & Leveling: gunakan jig/alat bantu untuk memastikan shaft dan vessel selaras.
- Wobble: cek runout sesuai toleransi pabrikan.
- Volume & Evaporasi: verifikasi volume awal dan pantau kehilangan akibat evaporasi.
- PVT (Performance Verification Test): gunakan tablet referensi (mis. prednisone) untuk memastikan sistem “bertingkah” sesuai harapan. PVT ini ibarat tes rasa pada kopi sebelum disajikan—kalau terasa aneh, jangan lanjut ke batch produksi.
Kesalahan Umum Operator & Cara Mencegahnya
- Medium tak didegassing → gelembung mengganggu permukaan tablet/alat, hasil jadi bias.
- Sampling tidak sinkron → keterlambatan 30–60 detik bisa mengubah profil pelepasan.
- Pembersihan kurang tuntas → residu batch sebelumnya jadi “bumbu tambahan”.
- Tidak mencatat lingkungan (ruang, vibrasi, power fluctuation) → kelak bingung saat OOS.
Solusinya? SOP yang jelas, logsheet yang disiplin, dan kalibrasi rutin alat disolusi oleh tim kompeten.
Baca Juga : Perbedaan Kapang dan Khamir: Cara Cepat Bedakan, Baca AKK, dan Cegah Kontaminasi di Produkmu
Validasi Metode & Kepatuhan Dokumen: Data Kuat, Audit Tenang
Metode bagus tanpa dokumentasi rapi sama saja seperti hasil enak tanpa resep—sulit diulang. Bagian ini menuntunmu merapikan sisi ilmiah sekaligus administratif.
Parameter Kunci Validasi Metode Disolusi
- Spesifisitas: tak ada interferensi dari eksipien/medium.
- Linearitas & Rentang: kalibrasi instrumen analitik (UV/HPLC) mendukung rentang % terlarut.
- Akurasi & Presisi: % recovery dan RSD sesuai kriteria; ulangi antar-hari/antar-analist.
- Robustness: uji perubahan kecil (rpm ±5, suhu ±0,2 °C, komposisi medium) untuk melihat sensitivitas.
Validasi yang matang membuat alat uji disolusi kamu “cocok jodoh” dengan produknya.
Dokumentasi yang Disukai Auditor
SOP jelas, form harian lengkap, catatan deviasi, CAPA, sertifikat kalibrasi, bukti PVT, dan pelatihan personel. Ingat, yang tidak terdokumentasi sering dianggap “tidak terjadi”. Pastikan setiap tindakan pada alat disolusi jejaknya rapi.
Alat Disolusi
Alat disolusi bukan hanya perangkat uji—ia ekosistem yang menuntut konsistensi. Dari pemilihan medium, kontrol suhu, hingga teknik sampling, semua saling terkait. Saat satu variabel “ngambek”, profil pelepasan ikut berubah. Di sinilah peran teknik kalibrasi yang benar dan PVT rutin: memastikan alat uji disolusi tetap “on track”.
Alat Disolusi dalam Rutinitas QC
Di lantai produksi, waktu adalah uang. Saya membiasakan tim menyiapkan pre-run checklist: leveling, suhu, RPM, degassing, dan uji kebocoran sirkulasi. Lima menit disiplin di depan sering menyelamatkan lima jam investigasi di belakang.
Alat Uji Disolusi & Pengambilan Keputusan
Data yang konsisten mempercepat diskusi dengan QA dan R&D. Kamu bisa bicara dengan yakin: variasi berasal dari formulanya, bukan dari alat. Itulah esensi alat uji disolusi yang terkualifikasi: membuat keputusan ilmiah menjadi lebih cepat dan lebih berani.
Strategi Troubleshooting Cepat yang Sering Saya Pakai
Kalau profil pelepasan tiba-tiba “liar”, saya cek urutan ini: (1) suhu per vessel, (2) RPM aktual, (3) degassing dan pH medium, (4) centering/wobble, (5) integritas tablet (friability/keretakan), (6) timing sampling. Sembilan dari sepuluh kasus selesai sebelum rapat darurat dimulai. Iya, kadang secangkir kopi juga membantu—bukan untuk alatnya, untuk operatornya.
Tips Menjaga Konsistensi Data
- Standarkan batch medium dan teknik degassing.
- Latih ulang sampling sinkron antar-analist.
- Jadwalkan kalibrasi berkala plus PVT—jangan tunggu OOS datang.
- Evaluasi tren (control chart) agar anomali terlihat dini.
Investasi Kecil, Dampak Besar
Thermometer terkalibrasi, tachometer yang andal, jig centering—biayanya kecil dibanding satu investigasi OOS. Ingat, “murah” dan “mahal” di lab ditentukan oleh dampaknya ke lini produksi dan audit.
Dari Lab untuk Lab—Yuk, Kita Rapikan Disolusi Kamu
Kalau kamu ingin hasil disolusi yang konsisten, audit-proof, dan hemat waktu, saya dan tim siap bantu. Butuh layanan kalibrasi, pelatihan, atau konsultasi yang akurat dan terpercaya?
Hubungi Destia Marsha: 0813-2145-5501(Info Training).
Untuk layanan kalibrasi yang terpercaya dan berkualitas dari PT Sinergi Pro Inovasi (SPIN), hubungi 0813-9438-9300.
Kita jadwalkan assessment singkat: cek alat uji disolusi, SOP, dan gap di lapangan—agar datamu mantap dan timmu tenang.





One comment
Pingback: Frekuensi Meter: Fungsi, Cara Kalibrasi, dan Trik Akurasi — Panduan Praktis dari Laboratorium