Seringkali kita menganggap istilah “akurat” dan “presisi” sebagai satu hal yang sama: ketepatan. Padahal dalam dunia pengukuran teknis, laboratorium, dan quality control, kedua istilah ini memiliki makna yang sangat berbeda dan krusial. Salah memahami keduanya bisa berakibat fatal pada hasil data dan kualitas produk Anda.
Apakah alat ukur Anda sudah memberikan hasil yang benar (akurat), atau hanya memberikan hasil yang konsisten (presisi)? Artikel ini akan mengupas tuntas perbedaan akurasi dan presisi, lengkap dengan rumus, contoh kasus, dan cara menghitungnya agar Anda tidak lagi salah kaprah.
👉 Ringkasan Singkat
Bagi Anda yang butuh jawaban cepat, berikut inti perbedaannya:
-
Akurasi adalah seberapa dekat hasil pengukuran dengan nilai sebenarnya (true value).
-
Presisi adalah seberapa dekat hasil pengukuran satu dengan lainnya jika dilakukan berulang-ulang (konsistensi).
-
Alat yang presisi belum tentu akurat (bisa konsisten salah).
-
Akurasi berkaitan dengan Error Sistematis, sedangkan Presisi berkaitan dengan Error Acak.
Apa Itu Akurasi dan Presisi?
Pengertian Akurasi
Akurasi (ketelitian) adalah ukuran seberapa dekat suatu hasil pengukuran dengan nilai standar atau nilai referensi yang sebenarnya. Jika Anda menimbang beban standar 10 kg dan timbangan menunjukkan angka 10,01 kg, maka timbangan tersebut memiliki akurasi yang tinggi. Dalam bahasa teknis, akurasi menjawab pertanyaan: “Apakah nilainya benar?”
Pengertian Presisi
Presisi (ketepatan) adalah ukuran seberapa konsisten hasil pengukuran ketika dilakukan berulang kali pada objek yang sama di bawah kondisi yang sama. Presisi tidak peduli apakah nilainya “benar” atau tidak, ia hanya peduli apakah nilainya “selalu sama”. Dalam statistik, presisi erat kaitannya dengan standar deviasi.
Analogi Papan Dart:
Bayangkan papan sasaran panah (dart).
Akurasi: Panah menancap tepat di tengah (Bullseye).
Presisi: Panah menancap berkumpul rapat di satu titik (meskipun titiknya ada di pinggir papan, jauh dari tengah).
Mengapa Memahami Bedanya Sangat Penting?
Membedakan akurasi dan presisi bukan sekadar teori, melainkan fondasi dalam kalibrasi alat ukur. Berikut manfaat utamanya:
-
Validitas Data Laboratorium – Memastikan data yang diambil dapat dipercaya untuk pengambilan keputusan.
-
Efisiensi Biaya Produksi – Mengurangi produk cacat (reject) akibat kesalahan setting mesin yang mungkin presisi tapi tidak akurat.
-
Keselamatan Kerja – Pada alat ukur tekanan atau suhu, kesalahan pembacaan (akurasi rendah) bisa berisiko ledakan atau kegagalan sistem.
-
Kepatuhan Standar ISO – Dalam ISO 17025, evaluasi ketidakpastian pengukuran (uncertainty) sangat bergantung pada pemahaman komponen akurasi dan presisi ini.
Studi Kasus: Pengalaman Mengkalibrasi Timbangan Digital
Sebagai praktisi di bidang kalibrasi instrumen, saya sering menemukan kasus menarik yang membuktikan bahwa presisi saja tidak cukup.
Saya pernah menangani klien yang mengeluh produknya selalu “kurang berat” saat sampai di tangan konsumen, padahal di pabrik timbangannya selalu menunjukkan angka yang “stabil”.
Temuan Lapangan:
-
Saat saya tes timbangan mereka dengan batu timbang standar 5 kg sebanyak 10 kali, hasilnya selalu 4,8 kg.
-
Hasilnya sangat presisi (selalu 4,8 kg, tidak berubah-ubah).
-
Namun, hasilnya tidak akurat (ada penyimpangan/error sebesar -0,2 kg dari nilai asli).
Insight:
Masalah ini disebut Systematic Error. Karena alat tersebut presisi, operator pabrik merasa alatnya bagus. Padahal, alat tersebut butuh kalibrasi ulang untuk menggeser nilai 4,8 kg kembali ke 5,0 kg. Dari sini saya menyimpulkan: Presisi adalah soal kualitas alat, Akurasi adalah soal kalibrasi.
Rumus dan Cara Menentukan Akurasi vs Presisi
Untuk membuktikan sebuah alat ukur layak pakai, Anda bisa menggunakan perhitungan sederhana berikut:
Langkah 1: Menghitung Akurasi (Error)
Gunakan rumus persentase error untuk melihat penyimpangan.
Semakin kecil nilai %, semakin tinggi akurasinya.
Langkah 2: Menghitung Presisi (Standar Deviasi)
Lakukan pengukuran minimal 5-10 kali, lalu cari sebaran datanya.
Semakin kecil nilai SD, semakin tinggi presisinya (data semakin rapat).
Langkah 3: Interpretasi Matriks
-
Akurat & Presisi: Hasil ideal. Alat ukur dalam kondisi prima.
-
Akurat tapi Tidak Presisi: Rata-rata benar, tapi data menyebar. Perlu cek lingkungan atau cara ukur operator.
-
Tidak Akurat tapi Presisi: Data konsisten salah. Perlu kalibrasi (zero adjustment/span).
-
Tidak Akurat & Tidak Presisi: Alat ukur rusak atau tidak layak pakai.
Risiko dan Kesalahan Umum yang Wajib Diwaspadai
Banyak teknisi terjebak dalam ilusi presisi. Berikut risikonya:
-
Bias Konfirmasi (Confirmation Bias)
-
Risiko: Karena hasil ukur selalu sama (presisi), teknisi langsung percaya bahwa itu hasil yang benar.
-
Solusi: Selalu verifikasi dengan alat standar atau lakukan kalibrasi berkala.
-
-
Mengabaikan Resolusi Alat
-
Risiko: Menggunakan alat dengan resolusi rendah untuk mengukur toleransi ketat.
-
Solusi: Gunakan “Rule of Ten” (resolusi alat harus 1/10 dari toleransi yang diukur).
-
-
Lingkungan yang Tidak Stabil
-
Risiko: Suhu dan getaran bisa merusak presisi (membuat data menyebar).
-
Solusi: Kondisikan lingkungan laboratorium sesuai standar (misal suhu 20°C ± 1°C).
-
Tips Mengoptimalkan Akurasi dan Presisi Alat Ukur
Agar instrumen Anda menghasilkan data yang valid, terapkan langkah berikut:
-
Kalibrasi Terjadwal: Ini adalah satu-satunya cara mengembalikan akurasi. Lakukan minimal 1 tahun sekali atau sesuai intensitas pemakaian.
-
Cek Kondisi Fisik & Kebersihan: Debu pada sensor atau karat pada caliper akan menghancurkan presisi.
-
Pelatihan Operator: Seringkali alatnya bagus, tapi cara ukur manusianya yang tidak konsisten (kesalahan paralaks).
-
Gunakan Standar Referensi: Selalu punya pembanding (master gauge) untuk verifikasi harian (intermediate check).
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan (FAQ)
- Apa perbedaan utama akurasi dan presisi?
Akurasi adalah kedekatan dengan nilai target (kebenaran), sedangkan presisi adalah kedekatan antar hasil pengulangan (kekonsistenan). - Mana yang lebih penting, akurasi atau presisi?
Keduanya penting. Namun, presisi biasanya menjadi syarat awal. Jika alat tidak presisi (hasil lompat-lompat), alat tersebut sulit dikalibrasi untuk menjadi akurat. - Apa contoh akurasi dan presisi dalam kehidupan sehari-hari?
Pemain basket yang selalu melempar bola masuk ke ring adalah akurat. Pemain yang selalu melempar bola mengenai pinggiran ring sebelah kanan terus-menerus adalah presisi (tapi tidak akurat). - Bagaimana cara memperbaiki alat yang presisi tapi tidak akurat?
Lakukan kalibrasi atau adjustment. Kesalahan ini biasanya bersifat sistematis (seperti jarum tidak di nol), sehingga mudah dikoreksi dengan penyetingan ulang.
Kesimpulan
Memahami perbedaan akurasi dan presisi adalah kunci utama dalam menjamin kualitas data pengukuran Anda.
-
Akurasi menjamin Anda mendapatkan nilai yang benar.
-
Presisi menjamin Anda mendapatkan konsistensi proses.
Alat ukur yang paling berbahaya adalah yang presisi namun tidak akurat, karena ia memberikan rasa aman palsu. Oleh karena itu, jangan hanya mengandalkan pembacaan alat semata. Pastikan alat ukur Anda rutin dikalibrasi oleh laboratorium terakreditasi untuk menjamin validitasnya.
Sudahkah alat ukur di perusahaan Anda dikalibrasi tahun ini? Jangan tunggu sampai ada komplain pelanggan akibat data yang tidak akurat.
Butuh layanan kalibrasi, pelatihan, atau konsultasi yang akurat dan terpercaya?
Destia Marsha: 0813-2145-5501 (Info Training)
Hubungi kami di: 0813-9438-9300 untuk layanan kalibrasi yang terpercaya dan berkualitas!







One comment
Pingback: Panjang Gelombang UV-Vis: Rahasia Hasil Akurat—Rentang, Prinsip, & Cara Membacanya Seperti Pro